Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Rutinitas Baru, Usaha Baru, Penghasilan Baru!


Sudah lama saya tidak menulis di blog ini lagi. Kegiatan saat ini sudah semakin padat (sok sibuk :) )

Sekarang nampaknya akan aktif lagi. Berbagi sekalian promosi :)

Kegiatan saya saat ini bertambah, sebagai Pasukan Billionaire Store. Selain ingin menambah penghasilan, saya juga ingin mendapatkan banyak ilmu dari Foundernya, Dewa Eka Prayoga.

Pertama kali bergabung, rasanya seperti orang bodoh, paling tidak tahu soal ini itu. Tapi sedang mencoba terus belajar.

Point penting yang ditanamkan oleh pria yang pernah rugi 7,7 M ini adalah keseimbangan antara ruhiah dan jasmaniah.

Ruhiyah yaitu urusan manusia dengan Tuhan, dan jasmaniah adalah hubungan dengan sesama manusia.

Bagi rekan-rekan yang mau gabung juga silahkan. Bisa buka website: resellerbillionaire.com.

Tenang, bukan MLM, bukan money game. Murni bisnis!
Read more

Kuli Tiada Henti

Rumah belum juga jadi padahal sudah hampir setahun. Memang bukan rumah saya sendiri. Namun di sinilah saya dan istri menghabiskan waktu.

Alasannya sederhana. Saya belum memiliki cukup uang meskipun bukan pengangguran. Gaji dari tempat kerja, saya investasikan seluruhnya untuk biaya pendidikan saya.

Sebagai konsekuensinya, saya harus menjadi kuli di rumah yang kami tempati.

Saya menikmati proses ini, dan saya akan segera menyelesaikannya dalam waktu dekat. Paling tidak akhir tahun 2016 saya bertekad menyelesaikan pembangunan rumah ini.

Saya bersyukur istri saya mengerti dengan keadaan ini meski dengan sindiran-sindiran pedas menyayat hati.  Namun inilah hidup yang harus kami lalui.

Maaf, catatan ini bukan curhat, tapi pengingat bagi saya di masa sukses saya yang akan datang, sehingga saya lebih bisa menghargai makna perjalanan hidup dan saya dapat menghargai orang lain.

Read more

Untuk Juni

Sebut saja Juni. Seorang wanita yang akhir-akhir ini selalu menyelimuti pikiranku. Aku mengenalnya beberapa hari yang lalu. Anehnya dia berhasil menyusup diantara kesibukanku.

Memang bukan pertama kalinya seorang wanita hadir dalam kehidupanku. Namun kali ini sangat berbeda. Dari usia, aku tiga tahun lebih muda darinya. Dari pendidikan, dia seorang sarjana sementara aku hanya lulusan SMA. Dari pekerjaan, dia seorang guru sementara aku hanya buruh harian lepas.

Perbedaan antara dia dan aku bukanlah sebuah masalah. Namun rasa yang ada padaku mungkin tak seharusnya ada.

Aku bukan pria kaya yang bisa memberinya apa yang dia mau dan dia butuhkan. Aku juga bukan pria pintar yang bisa mengajarinya banyak hal. Aku hanya pria biasa yang selalu ingin membuatnya bahagia. Bukan untuk saat ini saja, tapi untuk selamanya. Jika dia menghendakinya.

Aku tak bisa berjanji apa-apa padanya. Tapi aku akan berusaha untuk membuatnya selalu bahagia dalam keadaan apapun.

Juni, jika kau mengharapkanku aku akan selalu ada untukmu kapan pun kamu mau. Namun jika kau tak mengharapkanku, kau akan selalu di sini, di hatiku.

Read more

Nasi Timbel Komplit Ala 'Gurih 7 Resto'

Gurih 7 adalah sebuah restoran di Bogor yang menyajikan hidangan khas Sunda. Sebenarnya yang menarik perhatianku bukan itu, tapi suasana alami yang ditawarkan. Gemericik air dengan berbagai ikan dalam kolam itu dapat memberikan suasana tenang dan damai.

Menu yang ku pilih kali ini adalah Nasi Timbel Komplit. Simple dan sudah komplit, karena aku ga mau milih menu yang menurut aku ribet. :D




Read more

Buka Puasa Bersama Penggiat Indonesia Berkebun Jabodetabek

Read more

Rendang: Menu Buka Puasa

Read more

Keindahan Bukan Hanya Milik Tanaman Budidaya



Read more

Kacang Panjang Pun Perlu Dituntun

Kacang Panjang. Sayuran yang tidak asing bagi semua orang. Siapa sangka merawat kacang panjang itu layaknya mengurus bayi.

Kenapa aku ngomong gitu?

Tanaman kacang panjang adalah tanaman menjalar. Tanaman ini perlu diberi ajir untuk rambatan. Seperti bayi yang perlu alat bantu agar bisa belajar berjalan dengan baik.

Iya. Gitu aja. Namanya juga cerita. Hehehe.

Read more

Izinkan Aku Berjuang!


Jangan lagi kau bertanya, "Mengapa?"
Cinta ini mengalir begitu saja
Tanpa pernah ada yang meminta
Mungkin ini hadiah, atau mungkin cobaan dari Tuhan

Tak perlu kau hiraukan rasaku
Cukup izinkan aku berjuang
Memperjuangkan cinta ini

Aku tulus mencintaimu
Seperti mentari menyinari bumi
Seperti bulan menerangi malam
tanpa pamrih, tak harapkan balasan

Aku tak ingin memaksamu mencintaiku
Ikuti hatimu, pilih yang terbaik

Aku mencintaimu, masih mencintaimu, dan terus mencintaimu.
Read more

Keinginan Hati Tak Seharusnya Begini


Sebulan lalu aku mengenalnya. Seorang gadis mungil, imut, dan manis yang tak pernah bosan ku tatap. Dia bukan anak kecil. Perawakannya memang begitu. Aku menyukainya. Maksudku tubuhnya yang mungil, imut, dan manis itu.

Aku merasa nyaman bersamanya. Selalu ada kebahagiaan tersendiri. Entah, tapi begitulah yang ku rasakan. Meski baru sebulan aku mengenalnya, dia telah berhasil merebut sebuah ruang khusus di hatiku. 

Sekian lama sepi menemani, baru kali ini ada gadis yang bisa mengetuk pintu hati. Kadang aku sendiri tak mengerti. Kenapa harus ada rasa? Dan kenapa harus dia? Bukankah masih banyak gadis di luar sana? Begitulah sejatinya cinta. Bisa datang kapan saja, pada siapa saja, dan dalam keadaan apa saja. Banyak cara yang bisa dilakukan cinta untuk menampakkan dirinya. Namun tak semua orang mampu menyadarinya. Butuh waktu. 

Aku mengetahui dia telah memiliki kekasih sejak pertama kali chating dengannya di facebook. Awalnya aku berfikir dia hanya sudah memiliki pilihan semisal 'gebetan'. Eh, ternyata aku salah. Bahkan dia sudah lama menjalin hubungan itu dengan kekasihnya. Oke, aku abaikan itu.

Silih bergantinya hari yang kulewati, menghadirkan rasa yang mulai berbeda. Bukan lagi ingin tahu. Tapi ingin mengenalnya lebih jauh. Maaf, bukan aku yang inginkan itu. Tapi hatiku, perasaanku!

Banyak hal yang akhirnya sering mempertemukan. Sengaja atau tidak, aku menyukai setiap pertemuan itu. Dari setiap pertemuan itulah kami semakin dekat. Setidaknya aku merasa begitu. Tak tahu bagaimana perasaannya.

Read more

Canda Ria Ala Profesor

"Canda Ria ala Profesor" merupakan sebuah buku kumpulan cerita lucu dari Prof. Dr. Ir. H.M.H. Bintoro, M.Agr, Dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Read more

Mungkin Iya, Bisa Iya, dan Berharap Iya

Mungkin iya, bisa iya, dan berharap iya, itu yang ada dalam benakku saat ini. Pasalnya aku merasakan sesuatu yang berbeda hari ini sesaat setelah dia menanyakan namaku. Aku juga tidak tau ini akan terjadi secepat ini.

Mungkin ini iya, sebuah rasa cinta pada pandangan pertama. Bisa iya, ini benar-benar cinta atau sekedar rasa yang tak ada artinya. Namun aku berharap rasa ini adalah cinta.

Memang belum banyak yang ku tau darinya, karena memang ini pertemuan yang sangat singkat, walaupun aku pernah bertemu sebelumnya.

Selanjutnya, lihat saja nanti.
Read more

Ayah, Aku Rindu

Ayah, Aku Rindu - Ini sebenarnya bukan ide baru. Awalnya aku ingin membuat sebuah puisi yang isinya tentang kerinduanku pada ayah. Seorang laki-laki yang selalu memberikan aku kepercayaan untuk melakukan semua hal, termasuk masalah pilihan.

Aku sudah terbiasa dengan keadaan itu. Namun tanpa kehadiran ayah, bukan sebuah kebebasan lebih atau semua bisa diputuskan tanpa pertimbangannya. Aku justru merasa kehilangan. Merasa sendirian.

Sebebas apapun pada setiap keputusanku dulu, aku selalu meminta pertimbangannya. Sesuaikah dengan aku? Sesuaikah dengan ayah? Sesuaikah dengan yang lain? Selalu begitu. Sehingga apa yang aku putuskan tak satupun ada yang membuat kecewa.

Saat ini aku jauh dari ayah. Aku berada di sini (Bogor), sementara ayah masih di rumah (Merauke). Aku di sini tak memiliki siapaun, kecuali teman-teman sejawat yang saat ini komunikasi via sms pun sudah jarang. Hanya jika ada hal-hal penting saja.

Ayah, aku rindu saat-saat bersamamu. Aku rindu pelukanmu, aku rindu nasihatmu.

Ayah, aku rindu...
Read more

Aku untuk Satu Tujuan

Aku untuk Satu Tujuan
Judul: Aku untuk Satu Tujuan | Lokasi: Kebun Raya Bogor | Photo By: bostio

Read more

Terbang Tanpa Sayap

Judul: Terbang Tanpa Sayap | Lokasi: Kebun Raya Bogor | Photo By: bostio

Read more

Putri Buah Diesnatalis IPB dan HUT RRI Bogor

Foto Bersama Puteri Buah setelah Penanaman Pohon dalam rangka Diesnatalis IPB dan HUT RRI Bogor
Photo By: bostio

Foto Bersama Puteri Buah sebelum acara Diesnatalis IPB dan HUT RRI Bogor dimulai
Photo By: bostio

Foto Bersama Puteri Buah sesaat sebelum pembukaan acara Diesnatalis IPB dan HUT RRI Bogor
Photo By: bostio

Read more

Bidadariku Ada yang Memiliki



Lama tak ku lihat, bidadariku kian jelita.
Ingin ku peluk dengan rindu, ingin ku dekap dengan cinta,
tapi dia telah ada yang memiliki.

Lama tak ku lihat, bidadari, kau makin ku cinta.
Inginku gapai dengan rindu, ingin ku bawa dengan cinta,
tapi dia sudah ada yang memiliki.

Lamanya waktu ku menunggu, sabarnya ku menanti, tak ada artinya lagi.
Kau telah menjadi miliknya, dan aku bukan siapa-siapa.
Hanya lelaki setia dengan satu cinta.
Read more

Tak Hanya Sebatas Mimpi


Aku teringat saat pertama kali aku ke rumah ini. Saat itu Lisya sedang ada acara bersama teman-temannya di Banjarnegara. Aku dan mbak Ifa yang menemaniku, memutuskan untuk menunggu. Sambil menanti buka puasa sekalian, pikirku. Lagi pula setelah memasuki bulan Rhamadan, agenda kegiatan KKP sudah tak sepadat bulan sebelumnya. Selain bulan puasa, masa KKP pun akan segera berakhir.
Agenda menjelang berakhirnya KKP lebih difokuskan pada kegiatan silaturahmi dan hiburan. Maklum, sudah sebulan lebih kami melaksanakan kegiatan KKP dengan berbagai program yang banyak menyita waktu dan tenaga. Namun ini semua kami lakukan dengan tulus membantu masyarakat di desa tempat tugas kami.
Lisya tiba di rumah sudah menjelang magrib. Dia datang dengan berbagai barang belanjaanya. Aku sendiri tidak tahu apa saja yang ia beli, dan untuk apa barang-barang sebanyak itu.

“Sudah lama, Fa?” Tanya Lisya.
“Lumayan lah..”

Srrr. Darah dalam tubuhku seolah-olah mengalir deras kembali ke jantung sehingga membuat jantungku berpacu lebih cepat untuk menetralkannya. Ini adalah kedua kalinya ku jabat tangan lembut itu . Aku menyadari ini tak hanya sebatas mimpi sehingga kurasakan getar-getar aneh yang tidak dapat ku jelaskan.

“Tio.”ucapku dengan nada sedikit gemetar.
“Buka puasa di sini sekalian aja ya?” pinta Lisya.
“Gimana, Tio?”
“Aku ikut aja, mbak.” ujarku menjawab pertanyaan  mbak Ifa.
“Kalau misalnya pulang, masih bisa buka di rumah enggak, mbak?” tanyaku pada mbak Ifa.

Aku berharap mbak Ifa menjawab ‘tidak,’ karena aku berharap pertemuan ini tak hanya sebatas mimpi yang dapat hilang dalam sekejab. Mbak Ifa mungkin tidak tahu dengan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini. Namun aku berharap dia bersedia di sini lebih lama. Sedikitnya, sampai buka puasa. Sebenarnya aku juga merasa bersalah karena disaat yang sama, rekan-rekan KKP di Desa Gembol juga sedang menanti buka puasa bersama di Warung Lamongan. Entah apa yang membuat aku lebih memilih untuk tetap di sini, daripada harus segera pulang dan bergabung bersama rekan-rekan lainnya.

“Kalau sekarang pulang, ya telat-telat dikitlah sampai rumah.”

Yes! Inilah jawaban yang aku tunggu, gumamku dalam hati.

“Jadi?” tanyaku memastikan.
“Terserah Tio saja.”
“Gimana dong teman-teman di Lamongan?”
“Itu kan terserah Tio.” ujar mbak Ifa pasrah.
“Sekali-sekali enggak apa-apa lah mbak kita buka di sini. Besok-besok… buka di sini lagi. Hehehe.” Jawabku sekenanya.
“Mas…”
“Nanti malam aku akan melamar kamu secara resmi. Kamu siap-siap ya, nanti kita berangkat bareng. Bapak sama ibu sudah di sana. Terima kasih untuk cintamu sehingga semua ini tak hanya sebatas mimpiku untuk bisa bersamamu.”  
“Dimana Mas?”
“Di lapangan SD, Lis. Aku sengaja milih tempat di sana, biar murid-murid kamu juga bisa merasakan kebahagiaan kita.” 
“Terima kasih, Mas. Aku setuju sama ide kamu. Mudah-mudahan pertunangan kita menjadi berkah, seperti berkahnya buka puasa kita dahulu, yang membawa kita ke pertunangan ini.”
Aku kemudian beranjak ke kamar. Tubuhku mulai merasakan letih. Sekujur tubuhku seolah-olah kaku dan tak bisa digerakkan. Perlahan aku mencoba memejamkan mata sehingga nanti malam aku bisa melaksanakan pertunangan ini dengan lancar.
*** SELESAI***
“Tio…”
Sayup-sayup aku mendengar ada yang memanggilku. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas.
“Gitarmu matikan dulu kalau mau tidur” ujar suara itu.
“Hah?? Siapa yang membawa gitar?”

Aku mencoba untuk bangun dari tidurku. Aku melihat sekelilingku. Sebuah ampli gitar masih menyala dengan kabel jack input masih tersambung ke gitar yang berada di atas perutku. Oh, ternyata aku tadi sedang main gitar, terus ketiduran.

Read more

Jawaban untuk Cintaku

Jawaban untuk Cintaku - tiomerauke

Kabut semakin tebal menyelimuti Kalilunjar, sebuah desa di Banjarnegara. Kaca transparan yang melekat diantara bingkai jendela hanya menampakkan warna putih. Suhu udara semakin dingin. Aku masih mencoba untuk berfikir lebih jernih dan bersabar menanti. Namun Lisya tak kunjung keluar dari kamarnya. 

Aku mencoba menghibur diri dengan menatap langit-langit rumah berwarna putih menyejukkan. Aku berharap ungkapan perasaan cintaku ini tak berujung pada permusuhan. Sesederhana itu yang ku inginkan saat itu. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar tamu, tempat aku beristirahat tadi karena tak kunjung ada jawaban untuk cintaku.

"Mas,.."

Terdengar suara lembut memanggil ketika aku sampai di depan pintu kamar. Aku menunda niatku untuk membuka pintu. Aku berdiri tenang namun tidak membalikkan badan ke arah datangnya suara. Aku mencoba memastikan bahwa suara itu benar adanya.

"Mas..., maafin aku ya."

Spontan aku membalikkan badan ke arah suara itu. Ku lihat Lisya masih memegang kotak berisi cincin lamaran yang aku berikan. Lisya kembali membisu dengan kepala menunduk.

"Enggak apa-apa kok Lis. Anggap saja cincin itu oleh-oleh dari aku. Aku enggak akan maksa kamu untuk ngasih jawaban untuk cintaku ini. Jadi sahabatmu aku juga bisa bahagia, Lis. Kamu jangan pernah merasa enggak enak sama aku. Aku mungkin bukan yang terbaik buat kamu saat ini, tapi kamu akan tetap menjadi yang terbaik buat aku."

Lisya mengangkat pandangannya, menatapku hening. Perlahan dia berjalan ke arah ku. Aku terdiam.

"Mas, aku tidak bersedia menjadi kekasihmu..."

Kata 'tidak' sebagai jawaban untuk cintaku yang terucap dari bibirnya membuat aku sedikit kecewa. Namun aku mencoba tetap memperhatikan dan mendengarkan penuturannya tentang perasaannya kepadaku.

"...sebelum kamu menikahi aku." 

Deg. Jantungku seakan berhenti lebih lama dibandingkan dengan waktu pertama kali aku melihatnya. Ini jawaban yang aku dambakan tapi tidak pernah terbayangkan. Jujur aku takut mengharapkan cinta darinya. Takut aku tak bisa memberikan kebahagiaan yang ia dambakan. Namun akhirnya aku lega mendengar jawabannya. 

Satu lagi yang membuatnya begitu istimewa buat aku. Dia selalu menjaga auratnya, shalatnya, hormatnya kepada orang tua, kemurahan hatinya, dan ketaatannya kepada Allah S.W.T. Aku bersyukur kepada Allah yang telah mengirimkan bidadari sholihah ke dalam kehidupanku.

"Mas... Kok malah bengong sih? Aku tadi ke kamar tuh mau makai ini." ujar Lisya sambil mengangkat telapak tangannya. 

Aku melihat cincin pemberiaku sudah melekat di jari manis tangan kanannya.

"Jadi, bagaimana sekarang?"


Read more